lupa.

Aku tak ingat kapan

Aku ingat momen

Aku tak ingat wajahmu

Aku ingat figurmu

Aku tak ingat kapan terakhir aku menangis

Aku ingat rasanya

Pada akhirnya…

Aku tak ingat bagaimana cara mengingatmu lagi.

Advertisements

Rahasia.

Aku, baginya adalah cerita yang seorang pun tak boleh tahu.

Amed & Tulamben, Di Sini Para Diver Jatuh Cinta dengan Bali

Jangan lihat luarnya, tapi lihat dalamnya. Itulah yang harus kamu terapin saat liburan ke Pantai Amed dan Tulamben di timur Bali. Meski berpasir hitam, bawah laut dua pantai ini sangat cantik dan membuat para diver jatuh hati.

Amed dan Tulamben adalah sebuah desa yang terletak di Bali bagian timur. Perjalanan ke sana, traveler membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam dari Legian.

Untuk mengarah ke sana, saya menggunakan motor sewaan Rp 45.000 per hari. Motor ini juga menjadi satu-satunya kawan seperjalanan saya. Sebenernya bisa juga naik bus, tapi harus ada minimal dua penumpang yang terkumpul baru bus diberangkatin. Ribet ah! Mending berangkat sendirian aja!

Untungnya uda idup di jaman millenium *halah* Aplikasi google map dan…. peta Bali yang saya sobek dari brosur travel, buat jaga-jaga kalo gak ada sinyal!

Perjalanan saya mulai dari penginapan di Legian dan untuk perempuan seperti saya yang jarang bawa motor, bohong kalau perjalanan ini tidak membuat jantung berdebar. Dulu waktu SMA di Jogja sih bawa motor… tapi setelahnya udah gak pernah lagi.

Awal perjalanan emang sedikit bosenin, ngelewatin jalanan beton, panas, dan gersang. Ditambah lagi kena razia polisi (gak cuma sekali tapi 3X!) gara-gara helm yang gak standar, tapi untung udah bikin SIM C sebelum berangkat dan karena surat lengkap dan faktor turis jadinya dimaafin sama pak polisinya… ini juga jadi pelajaran buat nantinya ke Bali lagi, MINTA HELM STANDAR kalo sewa motor.

Balik lagi ngomongin perjalanan, setelah sampai di sekitar daerah Amlapura, pemandangannya berubah ciamik! Pegelnya bokong dan perihnya mata karena kena angin kelamaan terbayar dengan panorama indah, tebing bukit yang hijau dan sawah-sawah yang mulai menguning.

Sesampainya di Amed, saya pun disambut dengan keramahan penduduk setempat yang luar biasa. Terlihat di sepanjang jalan, berjejer toko yang menawarkan jasa kursus diving, menjual alat-alat diving.

Pengelola toko-toko tersebut kebanyakan orang-orang Eropa yang menetap di Amed. Jadi jangan heran bila mereka menawarkan kursus diving dengan berbagai bahasa, mulai Belanda, Jerman, dan Prancis.

Contohnya, tempat menginap dan sekaligus menjadi tempat mengambil sertifikasi diving saya ini dikelola oleh sepasang suami-istri dari Inggris Raya. Instruktur diving saya adalah seorang perempuan Hungaria bernama Vicky. Wanita ini sudah tinggal selama 5 tahun di Amed. Jadi berasa turis asing di negeri sendiri ya!

Ketika bertanya kenapa dia betah tinggal di Indonesia, jawabannya membuat saya bangga dengan negeri sendiri. “Diving spot di Indonesia belum habis saya explor dan Amed salah satu yang paling indah,” jawabnya dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.Â

Nama Pantai Amed sendiri sebenarnya adalah Jemeluk. Buat orang yang senang ke pantai, Amed terlihat menarik bukan karena pasir putih dan lautnya yang biru. Pantai ini cenderung terlihat hitam dari permukaan, dan berpasir hitam dengan banyak batu coral. Tapi bersihnya patut diacungi jempol!

Kalau ada yang bilang soal inner beauty, Amed punya kecantikan seperti itu. Mungkin di luarnya tidak menarik. Tapi kalau snorkeling atau diving memang pemandangan bawah laut Amed memang cantik banget.

Waktu belajar diving di beberapa tempat, saya belum pernah melihat keindahan seperti ini sebelumnya. Coral, anemone, schooling fish, giant clam, angel fish, scorpion fish, lion fish, nudibranch, clown fish, bloat fish, dan semua macam ikan yang ada di film “Finding Nemo” mungkin ada di sana.

Setelah hari pertama dan kedua di Amed. Akhirnya saya ke Tulamben untuk tes final diving! Dari Amed ke Tulamben membutuhkan waktu sekitar 20 menit perjalanan.

Pertama kali melihat Tulamben, saya kembali terpana melihat sepanjang pantai yang ramai dengan para diver. Mereka sudah siap-siap menyelam. Mayoritas turis di sini, lagi-lagi Eropa, Jepang, dan Korea. Turis lokalnya bisa dihitung jari.

Daya tarik utama Tulamben adalah kapal karam AS saat Perang Dunia II. Menurut penduduk Tulamben, kapal USA sepanjang 120 meter itu karam karena pada tahun 1946 rusak tertembak kapal Jepang. Lalu, kapal terdampar di pinggir pantai, sementara kru dan awak beserta ransum yang mereka bawa selamat. Lalu pada tahun 1963, Gunung Agung yang meletus, membawa kapal AS itu ke tengah laut dan akhirnya tenggelam sendiri.

Bisa dibilang ini petaka membawa berkah. Ya, kapal yang tenggelam itu akhirnya jadi rumah jutaan hewan di laut. Boleh dibilang pemandangannya memang jauh lebih “megah” dengan bangkai kapal yang sudah dipenuhi terumbu karang.

Ikan-ikan yang saya temui pun lebih bervariasi, mulai dari bayi bump, head fish yang seukuran anjing siberian husky, stingray, stone fish, dan masih banyak lagi. Di hari terakhir ini, saya merasakan apa yang Vicky rasakan, Kalau tidak karena keluarga dan pekerjaan, mungkin saya akan menetap di Amed.

Tagged ,

Aku cinta.

“Mah, Pah, aku sayang banget sama kalian!”

“Mah! Pah! kalian nomor satu dalam hidup aku!”

Pernah gak kalian mengeluarkan kalimat itu ke orang tua? pernah? jarang? atau gak pernah?

Kalo gue sendiri…ga pernah. Bayangin ngomongnya aja geli sendiri.

Gue sendiri lahir di tengah keluarga yang sulit ngungkapin rasa sayang dalam bentuk ucapan, mentok lewat tulisan di kartu ulang tahun…itu juga nulisnya uda pake keringetan. Padahal pengen banget  ngomong, tapi rasanya kaku aja “gak gue banget lah!” atau “gak keluarga gue banget lah!” ngomong aja susah ya…apalagi tindakan! Bahkan sekedar ciuman kening atau pipi aja dapet kalo gue ulang tahun…hahaha! agak parah memang…

Sebenernya seberapa kaku kita ngungkapin rasa sayang itu bisa diliat jelas dari film. Coba deh bandingin nonton film keluarga Hollywood sama Indonesia.

kalo Film Barat, banyak banget quotes romantis yang bisa bikin gue “awwwweeee…romantis banget….” kalo di Indonesia gue lebih banyak “heh? hah? heh?”, Film Indonesia bisa segitu katronya buat dialog-dialog romantis yang buat kita sendiri bisa ganjel kayak sembelit, gak familiar di kuping sehari-hari. Kalo dialog uda katro, harusnya bisa diselamatkan tindakan atau adegannya ya….tapi EH! DISENSOR!

Ini yang bikin gue heran sama badan sensor film Indonesia, kenapa adegan yang nunjukkin rasa kasih sayang aja bisa-bisa disensor, tapi herannya kenapa film yang berdarah-darah sarat kekerasan  sensornya ga parah-parah amat.

Ga usah di film deh. Orang ciuman di taman misalnya, bisa-bisa lo langsung ditangkep kantip karena dituduh berbuat mesum. Tapiiiiii…. kalo ada tawuran atau orang berantem, malah bukannya di-stop malah di tontonin dulu baru digelandang atau seringnya sih malah ikutan. Coba yang ciuman di taman diperlakuan sama kayak tawuran…kan seru hehe…

Tapi gue gak nyalahin keluarga gue karena bersikap kaku untuk mengungkapkan rasa sayang, gue gak berharap bisa kayak keluarga bule yang bisa ngomong “I love you mom dad!” dengan luwesnya… tapi jujur sih kayaknya emang ungkapan sayang tuh lebih enak didengerin pake bahasa inggris dibanding bahasa Indonesia? kenapa?

Gue rasa karena emang orang “sono” lebih mudah dan emang dibiasakan di keluarga untuk  ngungkapin rasa sayangnya. Coba deh dari kecil uda diajarin “mama cinta sama kamu ‘de!” atau “mama sayang sama kamu ‘de” pasti denger juga gak gatel di kuping juga…

Tapi gue tau dari tindakan keluarga gue, kami saling mencintai (doh nulisnya aja tiba-tiba jari jadi kaku) tapi akan lebih menyenangkan kalo “rasa” itu bisa diungkapin melalui kata-kata.

P.S: Mama, Bapak… Happy Birthday. I love you more than love itself. (tanpa bermaksud menyinggung bahasa Indonesia)

hmmm sebagai alternatif ungkapan sayang?

Halo!

Akhirnya! kesampean juga nulis blog lagi! moga-moga pada suka ya sama post-post matalihat, isinya masih seputar apa yang jadi ketertarikan matalihat: jalan-jalan, musik, buku, dan outdoor activities. sepert moto hidupnya lah Living Life Loving Life!

Cheers!

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!